Kamis, 15 Desember 2011

YANG SEMESTINYA KITA RAIH, ...

oleh Joko Suharto

Hal utama apakah yang perlu diraih di dalam hidup kita di dunia ini ?

Sehubungan dengan hal penting tersebut, perlu kita simak Firman Allah sebagai barikut: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”. (QS. Al Fajr: 27-30).

Berarti, memiliki “Jiwa yang tenang” merupakan hal yang semestinya sangat perlu untuk diraih oleh mereka yang mengharap memperoleh kebahagian Surga-Nya Allah. Jiwa yang tenang akan tumbuh di dalam  diri seseorang bilamana orang yang bersangkutan memiliki hati yang puas atau ridho serta diridho pula oleh Allah SWT. Di dalam ayat-ayat tersebut tergambar bahwa ada kaitannya antara ketenangan jiwa dengan hati yang ridho, serta ada kaitan pula antara hati yang ridho dengan termasuknya orang yang bersangkutan dalam “golongan hamba Allah” dan juga berkait pula akan diperolehnya kebahagiaan “Surga”.

Bagaimanakah caranya agar Kita bisa memiliki hati yang selalu ridho dan juga diridhoi?. Yaitu memiliki hati yang selalu ridho menerima kehidupan kita, ridho menerima segala kondisi yang ada pada diri kita, ridho menerima rezeki apa adanya, ridho menerima musibah apapun bentuknya, dan juga ridho menerima ketentuan-ketentuan lainnya ?.

Sebagai Hamba Allah yang sebenar-benarnya maka diri orang yang bersangkutan akan memiliki keridhoan dan ketenangan jiwa di dalam hidup dan dalam menghadapi kematiannya. Mereka akan memiliki ketenangan dan keridhoan dalam menerima segala ketentuan yang berlaku, jiwanya tidak bergejolak karena nafsu hasratnya terkendali, tak pula muncul kekecewaan karena apapun yang dia terimanya selalu dinilai baik baginya. Begitulah, hati seorang hamba Allah akan selalu berprasangka baik kepada Tuhannya.

Jiwa seseorang akan selalu tenang karena telah tumbuh sifat qona’ah pada dirinya, menerima apa adanya, tidak serakah dan tidak pula bersifat kikir. Dan Dia-pun telah Zuhud, tidak menggandrungi harta dan kenikmatan dunia, sehingga tak muncul sifat iri dengki, dan dia pun selalu bertawakkal berserah diri sepenuhnya kepada ketentuan Tuhannya. Demikian ketenangan akan diperoleh oleh mereka yang memiliki jiwa Qona’ah, zuhud, dan tawakkal.

Saudaraku, tuntunan agama dengan segala hukum-hukumnya, berupa kewajiban-kewajiban, sunnah-sunnah, serta larangannya, semuanya sangat erat hubungannya dengan pembentukan jiwa yang tenang serta untuk memperoleh kebahagiaan Surga.  Maka bagi orang-orang yang kafir, fasik, munafik, syirik, maupun musrik, telah diperingatkan padanya akan memperoleh kerugian-kerugian yang membuat mereka akan jauh dari ketenangan dan kebahagiaan. 

Cobalah kita pikir,.. mana mungkin seseorang yang besar nafsu hasratnya dan banyak melakukan pelanggaran akan memperoleh ketenangan jiwa???...

Sedangkan sikap ketaatan, kekhusyukan, amal kebajikan, serta menjauhi segala kemaksiatan, tentunya akan mewujudkan ketenangan jiwa dan kebahagiaan hidup.  Begitulah,.. bahwa sudah menjadi suatu hukum nyata bahwa kebersihan hati, kelurusan sikap, dan amal-amal shalih, banyak membantu orang lain akan membuat orang yang bersangkutan memperoleh ketentraman dalam hidupnya.

Saudaraku, bayangkanlah betapa nikmat kehidupan seseorang yang telah memiliki jiwa yang tenang, tak kan terasa adanya kepahitan hidup pada dirinya, takkan kuwatir terhadap kemiskinan, takkan bangga terhadap jabatan dan sanjungan, takkan mengeluh saat memperoleh ujian, dan takkan takut terhadap datangnya kematian. ... Sungguh dirinya telah mendapat kebahagiaan di dunia dan sekaligus memiliki bekal kebahagiaan yang hakiki di akhirat kelak.

Kita perhatikan,.. telah banyak orang yang menjadi lupa diri karena harta dan atau jabatan. Mereka menjadi semakin serakah, telah lupa terhadap umurnya yang semakin dekat dengan kematian. Rasulullah Saw. pernah memberikan peringatan sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah r.a, bahwa Rasul bersabda : ”Hati orang yang sudah tua dapat menjadi lupa akan usianya bila ia terlalu mencintai hidup dan harta benda”. (HR. Muslim)

Lalu,.. bagaimana dengan keadaan diri Kita saat ini ?, Apakah telah terwujud jiwa yang tenang dalam diri kita?. Sekiranya jiwa Kita masih penuh dengan gejolak-gejolak nafsu hasrat yang besar, masih menggandrungi harta kekayaan, masih muncul keserakahan, masih bernafsu terhadap kekuasaan, masih gila hormat dan mengharap sanjungan-sanjungan, atau masih sangat mencintai kenikmatan dunia lainnya??... Maka, bila seperti itu halnya kita perlu mengintrospeksi diri, mengevaluasi pelaksanaan ibadah-ibadah yang selama ini telah kita kerjakan, dan perlu segera kita memperbaikinya, melalui ightifar dan do’a memohon petunjuk jalan yang benar.

Semoga Allah SWT memberikan tuntunan-tuntunan kebenaran kepada Kita semua. Amiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar